| Sebagian dari tokoh dayak pada rapat damai tumbang anoi 1894 (dok) |
Tumbang Anoi, sebuah
desa kecil dan terpencil, saat ini segelintir orang yang tahu tentang
desa sunyi ini, namun 120 tahun yang lalu desa ini pernah membuat
sejarah penting, bukan hanya bagi “bangsa Dayak”, akan tetapi juga
Pemerintah Hindia Belanda. Maaf kalau Redaksi menyebutnya “bangsa
Dayak”, karena pada saat ini belum ada bangsa Indonesia.
Di tengah hutan jantung pulau Borneo
ini tahun 1894 tepatnya tanggal 22 Mei 1894 – 24 Juli 1894 terjadi
sebuah peristiwa, yaitu yang dinamakan Rapat Damai Tumbang Anoi,
ribuan orang dari seluruh tanah dayak berkumpul di desa ini, ketika itu
desa ini dipimpin oleh seorang tokoh adat yang bernama Damang Batu.
Salah satu hal penting yang tercetus dari rapat damai tersebut adalah
pernyataan damai, mengentikan permusuhan kepada pemerintah Hindia
Belanda dan juga permusuhan antara sesama bangsa Dayak, merajut
kebersamaan didalam keberagaman (unity in diversity) , menghormati
kemanusiaan, tidak lagi saling bunuh, tidak lagi ngayau. (humanity) dan
persatuan bangsa Dayak (unity).
120 tahun sungguh waktu yang sangat
lama bagi perjalanan sebuah bangsa dalam konteks ini bangsa Dayak, saat
itu sejumalah negara masih belum lahir, mereka baru rata-rata “merdeka”
sekitar 40 tahun kemudian paska perang dunia kedua, termasuk Indonesia.
Redaksi sangat kagum, betapa tidak, ternyata spirit Tumbang Anoi tadi
dijadikan pembukaan konstitusi oleh banyak negara yang merdeka
setelahnya, termasuk Indonesia.
Dalam dimensi kekiniaan nilai-nilai
dan spiriti Tumbang Anoi masih sangat relevan bukan saja bagi bangsa
Dayak, tetapi bagi bangsa-bangsa lainnya di dunia. Namun kini bangsa
Dayak menghadapi tantangan yang berat, kekayaan alam mereka ternyata
belum dapat mensejahterakan mereka, ketertinggalan masih menjadi bagian
dari kehidupan sebagian dari mereka.
Namun fakta lain juga kini menunjukan,
tidak sedikit dari warga bangsa Dayak yang berhasil secara sosial,
politik dan ekonomi, mereka ini belum memberikan konstribusi yang
optimal untuk mensejahterakan warga mereka yang lainnya, ibarat kerata
api mereka ini belum berhasil menjadi lokomotif yang dapat membawa
gerbongnya melaju. Tantangan lain, secara eksternal bangsa Dayak dalam
dimensi NKRI-pun ibarat gerbong yang terputus dari gerbong bangsa
lainnya. Sungguh ini suatu fakta yang semestinya mendorong bangsa Dayak
untuk mengaktualkan spirit Tumbang Anoi dalam dimensi kekiniaan,
persoalan yang ada bukan lagi terletak pada sumber daya alam , karena
semua itu mereka miliki, akan tetapi yang perlu mereka revitalisasi dan
reaktulisasi adalah kebersamaan (handep), agar gerbong bangsa Dayak
dapat melaju ditarik lokomotifnya yang kini bernama NKRI. Tentu kita
semua berharap Lokomotif ini haruslah adil terhadap semua gerbongnya.
Semoga!.
sumber : wartakalimantan.com


0 komentar:
Posting Komentar