Pangkaraya, Dalam
kebudayaan masyarakat Dayak di Kalimantan burung Enggang memiliki makna
tersendiri, dia sering jadikan lambang ketulusan, lambang semangat yang
mengangkasa selain burung juga oleh sekelompok komunitas Dayak dianggap
sebagai penjelmaan leluhur mereka, contohnya “Panglima Burung” yang
selalu datang menghampiri anak cucu atau keturunan mereka apabila
menghadapi masalah.
Pada salah satu ritual pengobatan yang
disebut “Balian”, salah satu Sangyang atau Dewa yang sering mereka
panggil juga dewa burung, dalam konteks ini adalah burung yang selalu
terbang pada malam hari, tetapi bukan burung hantu. Kalau burung yang
satu ini juga dipercayai bila dia berbunyi malam hari dibelakang
kampung, maka tidak lama kemudian akan ada diantara warga kampung yang
meninggal dunia.
Kembali tentang burung Enggang, dia
dipercaya “Raja Burung” jelmaan dewa leluhur yang menguasai angkasa
raya. Dalam bahasa Dayak umumnya menyebut burung Enggang sebagai
“Tengang”, selain itu dia juga disebut sebagai “Raja Wali”, tidak jelas
apakah lambang negara kita Burung Garuda dipilih karena adanya
nilai-nilai budaya tadi, namun konon ada yang menyebut demikian, lambang
negara kita dipilih Proklamator kita Soekarno atas usul salah seorang
Sultan dari Kalimantan Barat.
Populasi burung Tengang ini sekarang
semakin langka, dia masih tersisa dikawasan hutan yang jauh dari
pemukiman penduduk, walaupun bagi komunitas Dayak burung jenis ini tidak
boleh diganggu apalagi dibunuh, akan tetapi kawasan hutan habitat
mereka kini kian terganggu dan kian berkurang akibat kegiatan deforetasi
yang terjadi selama ini.
Kami melalui media ini ingin
menghimbau keperdulian kita semua menyelamatkan mereka sama seperti kita
menyelamatkan populasi Orang Hutan dan Kalawet (uwa-uwa) yang kini
sudah menjadi isu lingkungan. Sekarang bagaimana dengan burung Enggang
yang memiliki nilai-nilai tinggi dan jauh lebih tinggi dari pada Orang
Hutan ataupun Uwa-uwa. Kita tunggu !. (j/1).
Sumber : http://www.wartakalimantan.com/sosial-budaya/burung-enggang-sang-raja-angkasa-raya-kini-kian-terancam
- Blogger Comment
- Facebook Comment
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 komentar:
Posting Komentar